Hasanuddin Murad Raih Penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara

 

tola, H. Hasanuddin Murad kembali mendapatkan penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yodhoyono.Kali ini, mantan Anggota Komisi V DPRRI itu memperoleh Penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara (APN) tahun 2012.

 

Penghargaan ini diberikan kepada beliau atas keberhasilannya dalam meningkatkan produksi pangan, antara lain padi 5,1 %, sapi potong 11, 7%, ayam pedaging 5,7%, dan ikan 6,3%; mengembangkan sistem resi gudang dengan jumlah padi yang disimpan 252.921 kg dan nilai kredit sebesar Rp 350 juta; serta mengembangkan kredit pupuk bersubsidi tanpa bunga sebesar Rp 11 milyar.

Acara penganugerahan Penghargaan tersebut diserahkan di Istana Negara oleh Presiden RI yang dihadiri oleh Ibu Negara Ny Hj. Ani Bambang Yudhoyono serta beberapa Menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2 antara lain Menko Ekoin Hatta Radjasa, Menhut Zuklifli Hassan, Men Perikanan dan Kelautan Cecep Sudirja. Selain Bupati yang kembali memimpin Barito Kuala untuk kali kedua ini, ada 6 Gubernur, 7 Bupati, 2 Walikota serta 9 Kepala Desa yang memperoleh penghargaan kategori pembina. Selain kategori pembina, ada 8 orang penyuluh, 4 orang pengawas, 3 peneliti, serta 32 orang lainnya yang memperoleh penghargaan kategori pelaku pembangunan ketahanan pangan lainnya.

Pada kesempatan itu, Presiden Susilo Bamang Yudhoyono memberikan ucapan selamat kepada para penerima serta memberikan sambutan yang antara lain menyatakan bahwa dari sekian penghargaan yang diberikan kepada perorangan maupun kelompok ataupun lembaga, penghargaan kali ini memiliki nilai lebih dan arti yang strategis karena upaya yang dilakukan menyangkut hajat hidup orang banyak. Menurut beliau, bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki ketahanan pangan yang kuat pula.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Suswono juga mengutarakan pendapat yang serupa. Beliau menyatakan ucapan selamat dengan harapan agar para penerima dapat menjadi teladan dan senantiasa menjadi motivator bagi seluruh komponen bangsa dalam rangka upaya pencapaian ketahanan pangan nasional yang pada gilirannya guna mencapai kedaulatan pangan nasional.

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Realisasi produksi gabah masih dalam batas aman. Menteri Pertanian Suswono mengatakan, berdasarkan angka ramalan II tahun 2012, produksi gabah masih terlihat konsisten dengan ada kenaikan mendekati 5 persen.

 

"Akan ada kenaikan 4,87 persen, mendekati 5 persen. Itu kalau kita lihat indikator dari Cipinang (pasar induk beras), supply lebih besar dari pada yang keluar ," kata Suswono. Suplai rata-rata mencapai 2.500 sampai 2.800 ton.

 

Meski ada mundur musim tanam, lanjut dia, hal itu tidak terlalu memberikan pengaruh. Menurut Suswono, itu masih bisa diantisipasi dengan lahan-lahan rawa yang sebelumnya tidak bisa ditanami, namun pada musim kemarau jangka bisa ditanami. "Jadi belum mengkhawatirkan," katanya.

 

Suswono mengatakan, tahun 2013 menargetkan ada kenaikan sebesar 6 persen untuk memenuhi surplus cadangan beras. "Itu sekitar 74 juta juta ton untuk gabah kering giling. Kita harapkan mudah-mudahan tercapai," ujar menteri asal PKS itu. Mengenai kendala lahan, Suswono mengatakan, sudah menyiapkan usulan mengenai adanya moratorium lahan. Saat ini, draft inpres untuk moratorium itu sudah disampaikan ke tingkat menko perekonomian.

 

"Seperti dulu ada moratorium lahan gambut, itu mudah-mudahan bisa terjadi pada pertanian lahan produktif karena terus terang saya miris karena begitu mudahnya mengkonversi lahan," terangnya. Presiden SBY juga menilai ketersediaan lahan yang bisa berpengaruh pada jumlah produksi. Menurutnya, banyak pengalihan fungsi lahan yang saat ini terjadi.

 

"Yang tadinya pertanian jadi digunakan untuk kepentingan lain. Kalau terlalu banyak pengalihan akan ada penurunan produksi," katanya. SBY menegaskan jumlah produksi harus naik meski lahan tidak bertambah signifikan. Karena itu yang perlu digenjot adalah produktifitas dengan penelitian dan pengembangan, seperti upaya melawan hama.

 

"Kalau kita jaga maka produktifitas kita akan meningkat," ujarnya. Dalam kesempatan itu, Presiden SBY memberikan penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara Tahun 2012 kepada 75 penerima. Di antaranya kepada enam gubernur. Yakni Soekarwo (Jawa Timur), Ahmad Heryawan (Jabar), Bibit Waluyo (Jateng), Zainal Majdi (NTB), Sjachroedin ZP (Lampung), dan Syahrul Yasin Limpo (Sulsel) yang masuk kategori pembina ketahanan pangan.

 

Selain enam gubernur, dalam kategori itu juga ada 8 bupati/walikota, antara lain Muhtarom (Madiun), Marjoko (Banyumas), Amri Tambunan (Deli Serdang), Herman Sutrisno (Kota Banjar, Jabar), dan Hasanuddin Murad (Barito Kuala, Kalsel). Selain itu juga 9 kepala desa, antara lain Eko Budi Santoso (Randugading, Tajiman, Malang), Nurwatoni (Karangtalun, Imogiri, Bantul), dan Sajadi (Puluhan, Jatinom, Klaten).

Selain kategori pembina ketahanan pangan, juga diberikan penghargaan untuk kategori pelopor ketahanan pangan (3 penerima), pelayanan ketahanan pangan (15), pelaku pembangunan ketahanan (30), dan pemangku ketahanan pangan (2).

 

( Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} fal/bin/Hairun Noor/Humpro Batola )